Sebut saja namanya paijo, ia seorang pemain musik di salah satu band. Punya jiwa nasionalisme yang tinggi setelah ada beberapa kasus pencurian warisan budayanya. Apalagi salah satu tim Negaranya bisa melejit pada even piala seasia. Semakin menambah berkobar semangat nasionalismenya.
Tapi paijo bukan orang yang sekadar nasionalisme atributan (ikut-ikutan), “ia harus membuktikannya dengan kondisi jaman sekarang ini”, ia nggak mau yang hanya atributan tapi ia harus berbuat sesuatu untuk bangsanya walau pun itu kecil sesuai dengan kemampuannya”, begitulah pikirnya dengan semangat yang berkobar-kobar.
“besok gw mau ke sanggarnya pak sastro yang ada di dekat rumah”. Dalam ketetapan hatinya.
Ini kira-kira sekelumit cerita dari lukisan yang saya buat, lukisan ini saya buat semalam sampai larut malam dengan semangat berkobar-kobar, sama seperti paijo yang ingin memberikan sesuatu buat bangsa.
Lanjut ke ceritanya:
esoknya setelah sarapan pagi dengan nasi uduk buatan bu sarti, paijo berangkat ke sanggar pak sastro yang kebetulan dekat dengan rumahnya.
“SALAMMU’ALAIKUM”, keceng banget suaranya sangking semangatnya nih.
“wa alaikum salam”, pak sastro menyambut paijo dengan sedikit heran.
“e…e… nak paijo, ada apa tumben kemari”, sambut pak sastro. Kemudian pak sastro mempersilahkan paijo masuk dan duduk diantara alat-alat tradisional yang ada di sanggar tersebut.
“begini pak sastro, saya mau belajar salah satu alat tradisional yang ada di sanggar ini”, penjelasan paijo maksud kedatangannya ke sanggar tersebut.
“wah, nggak nyangka, kamu udah nggak ngeband”, kata pak sastro.
“masih pak, hanya saya ingin paling tidak saya bisa menguasai salah satu dari alat tradisional bangsa sendiri”, begitu kata paijo.
“bagus…. Bagus… bagus….? Siapa lagi kalau bukan yang muda-muda yang melanjutkan, belum sempat pak sastro menjelaskan tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam, rupanya istrinya pak sastro yaitu bu sastri yang berteriak,
“pak burungmu ucul”, dengan nada samar-samar, dari balik gorden batik yang ada di pintu.
“ada apa to, bu?, sebentarnya nak pak paijo saya ke dalam dulu, silahkan saja dilihat-lihat dulu? Ada apa to bu… bu… ada tamu juga? Seraya menggerutu meninggalkan paijo menuju ke dalam menemui bu sastri.
ini cerita selanjutnya sebenarnya ada dua versi tapi saya ambil satu versi saja.
Tinggallah paijo di ruangan sanggar yang terbilang lumayan besar untuk sanggar tradisional.
Kemudian ia mencoba satu persatu alat tradisional yang ada diruangan tersebut.
“tung…. Tung..tung…gong”, ini apa namanya ya? Guman paijo
Sampai pada salah satu alat musik terbentuk dari bamboo dari yang kecil ke yang besar,
“kalau ini gw tahu, ini sih suling bamboo”, gumannya lagi. Tapi dia tertarik sama yang besar, mungkin karena yang besar sesuai sama badannya yang bertubuh besar atau memang karena………. “Ini suling gede banget, coba yang ini ah!”.
“Suuut…….tttttt……….suiiittt et, paijo kemudian mencoba memainkan alat musik suling bamboo tersebut.
Tiba-tiba
“plk….plk….”, seekor burung hinggap salah satu bamboo yag menancap di dinding dekat dengan paijo kira-kira 5 jengkal tangan orang dewasa.
Ketika paijo meniupkan sulingnya burung itu mengikuti dengan suara “kurr …pe tekuk kurrr”, suitttt suut ….suilll…” berbarengan nadanya.
“eh ni burung ngapain lagi”, dalam hati paijo.
Setiap kali paijo meniupkan sulingnya burung itu terus mengikuti dengan suara merdunya.
Ini membuat paijo sangat kesal, pikirnya ini mengganggu konsentrasi meniup sulingnya.
Tiba-tiba lagi.
“PLETAK”, paijo mengayunkan sulingnya ke arah burung tersebut tepat mengenai kepala burung tersebut. Tentu saja burung itu jatuh tersungkur, di hajar suling yang panjang 5 kali dari badan burung tersebut. Kemudian burung tersebut menggelepar-gelepar masuk kebawah panggung.
“heh…. Modar lu”, gangguin aja sih. Katanya dalam hati. Kemudian paijo melanjutkan bermain sulingnya.
Selang beberapa lama muncul pak sastro dengan berteriak-teriak seperti sedang mencari sesuatu. “paijo………….paijo……… kurrr… tekukurr ….a” sambil menjentikkan 2 jemarinya. Pluk”, pluk”.
“saya di sini pak sastro”, kata paijo.
“eh.. bukan kamu saya mencari burug saya, kamu lihat burung saya”, Tanya pak sastro kepada paijo.
Glk…. 2 kali glk pertama tu burung dinamain sama nama gw…glk kedua (paijo menahan rasa bersalah) “jadi burung yang tadi …. Jangan-jangan” dalam hati paijo.
“engg ….engg…. nggak liat pak, coba dicari luar kali pak”, sambil menutupi rasa was-was dalam dirinya.
“saya coba cari diluar” ujar pak sastro. “jo…. Paijo…. Jo …” pak sastro menuju keluar mencari si paijo burungnya.
Paijo sambil menahan rasa was-was serta rasa bersalahnya celingak-celinguk sambil mengendap-edap pergi meninggalkan sanggar pak sastro.

Ini cerita dalam versi yang pertama kalo versi keduanya ketika burung tersebut mengikuti alunan nada suling yang dimainkan oleh paijo. Terbetik dalam hatinya. Tentunya karena dia seorang pemain musik dia menemukan seperti menemukan alunan nada baru.

Maksud dari cerita ini:
jangan gampang emosi, biarkan orang lain berkicau kafilah terus berlalu. Gara-gara emosi gagal latihan deh. Kalau mau ambil cerita versi kedua siapa tahu dia bisa konser bareng burung perkutut he … he… he…. bukan tidak mungkin (sedikit berimajinasi).

Ayo gan…. penerbit……. kolektor… silahkan…..
di jual lukisan beserta narasi (cerita) nya.
Baru kali ini lukisan digabung sama narasi, harusnya gw pergi ke penerbit nih. Dijadikan novel pendek.