seni = Imajinasi = kretifitas + berpengetahuan


Cara paling mudah untuk melatih kreatifitas diri adalah meletakkannya ke atas media. Karena imajinasi yang tertangkap di otak dengan mudah bisa kita tuangkan ke atas media tertentu dan dalam bentuk yang beragam sesuai apa yang kita inginkan. contoh berimajinasi tentang lautan dengan menggunakan kanvas, kuas dan cat maka kita mendapatkan karya lukis pada kanvas, ketika kita ambil secarik kertas dan alat tulis maka menjadi karya tulis, bisa berupa puisi, cerpen atau novel. ketika kita ambil ilmu teknik untuk mengubah lautan jadilah ia karya teknik, ketika di sandingkan dengan ilmu politik jadilah seni berpolitik, ketika di sandingkan dengan ekonomi jadilah seni ekonomi.
Kita berimajinasi kemudian kita ambil alat/ilmu sesuai apa yang kita inginkan ia dapat berubah menjadi apa saja sesuai bidang yang kita tekuni. Sebagian orang beranggapan bahwa yang berhak atau memonopoli imajinasi adalah di bidang seni, padahal seni adalah bagian terkecil dari imajinasi yang tertangkap di otak. imajinasi begitu luas tak terbatas di bandingkan dengan ilmu pengetahuan (“Albert Einstein”).
Media Seni alat ampuh melatih berimajinasi dan berpikir kreatif
Sadar atau tidak sistem pendidikan kita telah mematikan atau menyempitkan atau mengkotakkan istilah seni. Karena dasarnya adalah melalui pendidikan seni yang kita peroleh ketika sebelum masuk TK, TK, SD dan SMP, karena pada saat SMA/STM apalagi kuliah saya tidak lagi mendapatkan pelajaran seni. Seni hanya diperoleh melalui jalur khusus yang telah disediakan Seperti IKJ, ISI dll.
Pendidikan seni yang menjadi penetrasi awal berimajinasi seharusnya sama seperti ilmu lainnya, karena bukan seni yang menjadi acuan seseorang untuk menjadi seorang seniman, tapi dengan seni/imajinasi orang bisa menjadi apa saja yang di cita-citakan.
Seni yang saya katakan adalah termudah dan paling simple melatih imajinasi dalam hal ini otak kanan yang bekerja sebagai pelengkap bahkan sebagai motor penggerak bagi ilmu lain untuk dapat di apalikasikan dalam kehidupan yang semakin dinamis dan bergerak cepat. Karena setiap saat orang/perusahaan dll bersaing menciptakan produk-produk baru yang inovatif. Maka apa jadinya jika imajinasi kita tumpul? Karena tidak kita latih dan bahkan cenderung dimatikan jadilah kita Copaser.
Segala ciptaan, dan penemuan semua berawal dari imajinasi manusia yang berkolaborasi dengan ilmu-ilmu lain yang kita peroleh menyatu membentuk kesatuan Produk. Produknya bisa bermacam-macam.
Seni yang kita pelajari bukan untuk kita menjadi seniman, tapi seni yang kita pelajari adalah untuk melatih daya imajinasi dan kreatifitas dalam diri yang nantinya akan terbentuk sesuai dengan ilmu-ilmu yang menjadi acuan atau cita-cita kita.
Mungkin karena istilah seni yang terlanjur, jadi kalau ada orang yang menekuni seni dianggap seniman, saya suka dengan istilah yang diungkapkan kawan di FB bahwa “setiap kita adalah seniman”
Antara Otak Kiri dan Otak Kanan
Otak Kiri adalah tempatnya berpikir Logis, sementara otak kanan berpikir Non Logis.
Ada kalanya kita berpikir logis adakalanya kita berpikir tidak logis. Keduanya di perlukan dalam kehidupan. Padahal keduanya berkaitan dan erat hubungannya.
Contoh :
Ketika orang ingin terbang, hanya sebagian kecil orang yang mengatakan ini logis (bisa), tapi sebagian besar mengatakan mana mungkin (tidak logis).
Orang yang mengatakan logis karena mereka memperhatikan burung terbang. Mengimajinasikan melalui otak kanan kemudian dengan otak kiri menjadikannya logis.
Mengapa di bumi banyak Gunung berapi? Apa fungsinya Gunung berapi? Mengapa gunung itu meletus? Dan apa yang bisa kita terapkan dalam kehidupan?
Kalau di dunia teknik khususnya perpipaan itu ada yang di sebut dengan pressure valve, dalam pressure valve itu ada per yang dapat di stel pada tekanan berapa per akan bergerak naik yang kalau bergerak naik dia akan membuka katup membuang tekanan berlebih yang berada dalam pipa, apa jadinya kalau tidak kita pasangkan pressure valve, tentunya tekanan akan berlebih dan mengakibatkan pipa meledak.
Kalau memang mau berpikir non logis agar supaya gunung tidak meletus atau paling tidak memperkecil letusan kita buat saja sebuah alat pressure valve Mountain (Katup Tekanan Gunung). Bukankah tekanan yang di hasilkan bisa menjadikan sumber energy baru bisa untuk menggerakkan turbin, jadi deh PLTG (Pembangkit Listrik Tekanan Gunung) Logis nggak?
Ada buaaaanyak hall yang pada awalnya kita anggap non logis tapi menjadi logis. Gunakan dua belah otak anda untuk berpikir maka akan banyak atau paling tidak memudahkan kita menangkap sesuatu yang kita anggap sulit dan membuat sakit kepala menjadi mudah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s