Bangun jangan malas


Lanjutan 4 tahun silam

 Subuh menyapa siapa saja yang masih terlelap di pembaringan, suara adzan menggema mengusik jiwa yang sedang terlelap dalam mimpi, isyarat kan cinta Ilahi untuk meraih rezeki yang akan Dia beri, bagi yang bangun pagi, bangun dan gapai harapanmu… jangan kau asyik dalam mimpi-mimpi semu, bangun-bangun… segeralah dalam rahmat Allah untukmu, semoga mimpi-mimpimu yang indah malam itu menjadi nyata hari ini.

“Wahh….ahhh…”, tubuhku seperti di tindih batu besar kalau mau beranjak dari tidur, mata seperti di lem aica aibon walau hanya ingin membuka sedikit kelopak mata.

“Allahu Akbar”, hentakku untuk menyadarkan jiwa yang masih asyik terlelap dalam buaian mimpi indah. Kukumpulkan semua energi positif untuk menggugah jiwa yang lemah agar menjadi kuat. Suara adzan yang mengusik pikiran dan jiwaku, segera menyadarkanku untuk bangkit, semoga Muadzin itu di rakhmati Allah, karena telah membuat banyak jiwa-jiwa yang lemah menjadi kuat.

Ku segera bangkit dari tidur dan bergegas ke kamar mandi, untuk mengambil air wudhu, tersenyum ku melihat Oma dan isteriku sudah asyik di dapur untuk membuat sarapan pagi ini.

Oma adalah mertuaku yang tinggal bersama kami, orang yang paling rajin di antara kami, orang yang paling komitmen bangun pagi-pagi sekali, tak jarang suara ayam berkokok tak bisa menandingi kemampuannya untuk bangun lebih awal.

“Eh, Abi sudah bangun”, celetuk isteriku, seolah-olah menyindirku,

Aku hanya tersenyum, tak membalas celetukkan isteriku, hanya dalam hati kusahut begini “emangnya baru kali ini apa aku bangun subuh-subuh begini”,

memang sih, akhir-akhir ini semangatku sedang kendor, seperti karet kolor yang sudah melor, “melar kali”.

“Abi! Handuknya ada di lemari”, kata oma dengan suara khasnya yang lantang dan keras, kalau bicara oma memang lantang, waktu pertama kami menikah, aku sempat tidak suka dengan gaya bicaranya yang asal jeplak, banyak kata-kata yang di ubah dengan kata-kata yang aneh di kupingku, apalagi kalau lagi marah-marah sama cucunya, seperti oon, dombleh, boboy, dombloh, gresut, dan banyak lagi kata-kata yang di pelintir tidak karuan. Memang awalnya ketika isteriku meminta kepadanya kalau marah-marah sama cucunya supaya memelintir kata-kata kasar agar tidak dimengerti oleh cucu-cucunya.

“Suara iqomat sudah terdengar”. Segera ku bergegas ke Mushalla, yang berada tidak jauh dari rumahku, yang hanya berjarak 15 langkah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s