Ku Pasti Bisa


4 tahun silam!

 Sudah hampir 2 bulan aku nganggur di rumah, karena pekerjaanku yang lalu di stop karena aku di anggap melawan atasan, hanya karena berdebat masalah kesalahan nyablon yang tidak tepat waktu, dan hasilnya luar biasa hancur. Padahal sudah aku beritahu dari awal, sebaiknya nyablonnya dibuat satu persatu jangan sekali dua, karena ukuran yang kami sablon itu hampir 1 m2, jadi agak sulit buat kawan-kawanku (Team) untuk mengerjakannya, waktu itu kita dapat order sablon dari bintang toedjoe berupa flagchain. Flagchain adalah satu alat promosi berbentuk segi empat atau segi lain tergantung desain yang disusun menyerupai rantai bendera, bahan bakunya adalah PPC sheet. Kalau kamu pernah perhatikan di warung-warung, biasanya depannya ada produk ini terpajang memanjang. Pada saat itu jumlah yang kami kerjakan rencananya adalah 75 rb buah, mungkin karena ingin mempercepat proses pengerjaan maka output f ilm 2 gambar dibuat gabung jadi satu. Sang Bos tidak memikirkan, bagaimana kami kesulitan sekali mengerjakannya, Karena ukuran yang terlalu besar. Padahal kami sudah ikut borongan mengerjakan sablon 2 tahun lebih dan pekerjaan sablon yang kami kerjakan ukurannya memang super besar untuk kelas sablon manual, diantara produk-produknya adalah cover ban, banner dan standing board.

“Yah…! itulah pelajaran berharga, yang bisa aku jadikan bahan renungan agar tidak terulang kembali di masa depan. Dan hari ini merupakan awal langkah baru buatku untuk memulai kembali dari kesalahan masa lalu”.

“CAD (Computer Aided Design).” Kataku pada isteriku. “sudah lama sekali aku tidak pernah menggunakannya, terakhir kali aku gunakan sekitar tahun 2000, itupun baru kursus, CAD R14 pada saat itu, pada salah satu tempat kursus di daerah pasar minggu, yang ku peroleh di media POSKOTA yang menjanjikan langsung kerja bila telah usai/lulus kursusnya, namun kenyataannya hanya iklan omong kosong”, dalam hati menjerit.

“Ya, Freelance!.”bukankah kamu pernah kerja di kontraktor?”, kata isteri lagi.

“Iya, sudah lama sekali, lagi pula dulu masih menggunakan tangan, alias manual”, sahutku.

“Ya, di coba saja dulu”, Isteriku memberikan semangat agar aku mau menerimanya.

“Baiklah aku coba….”, dengan bimbang aku tanggapi permintaan isteriku. Aku merasa berdosa sekali padanya, karena isteriku juga bekerja membantuku, untuk dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga, padahal itu adalah merupakan tanggung jawabku sebagai suami, bersyukur aku mendapatkan isteri yang tabah dan sabar mau menerimaku sebagai suami. Padahal ketika aku belum berumah tangga, aku menginginkan sesuatu yang ideal, bahwa seorang isteri sebaiknya di rumah bekerja mengurus rumah dan anak-anak yang butuh perhatian dan belaian kasih sayang dari seorang ibu. Tapi harapan itu rupanya hanya angan-angan yang belum terwujud, kalau sampai anak-anakku besar nanti maka, benar-benar idealisasi yang aku inginkan tak kan pernah kesampaian, “Oh, Tuhan!”, berilah aku petunjuk dan berilah aku jalan untuk dapat mewujudkan impianku ini?”, pintaku dalam hati, segera ku cium kening isteriku dengan penuh kehangatan, seraya berkata, “terima kasih, mi….!”, ucapkku dengan suara getar. Tak terasa air mata menetes, dan segera ku seka dengan lengan tangan kananku. Isteriku hanya tertegun mendapatkan ciuman hangat di keningnya, aku tak menghiraukan pikiran apa yang terlintas dalam benaknya ketika ku cium keningnya.

lanjut lain waktu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s