4 pelajaran dari warren buffet


warren buffet

Warren Buffett dengan Berkshire Hathaway-nya baru saja merilis laporan untuk para pemegang sahamnya. Banyak yang bisa kita pelajari dari laporan tersebut mengenai bagaimana menjadi entrepreneur yang lebih kampiun dalam berbisnis.

Inilah 4 poin yang bisa kita pelajari dari Buffett sebagaimana disarikan dari laman PandoDaily.com (3/3).

Temukan dan kembangkan kelebihan kompetitif

Buffett terkenal dengan kemampuannya menemukan perusahaan-perusahaan yang memiliki perlindungan kompetitif untuk memungkinkan mereka bertumbuh dan berkembang dengan cepat dalam jangka panjang dan melinkdungi mereka dari persaingan.

Coca Cola salah satu contoh terbaik dalam portofolio Berkshire. Brand ini sangat ikonik dan kuat dan brand lain sangat sulit menggoyang posisinya. Contoh lain kelebihan kompetitif ialah Apple yang kualitas produk dan brandnya saling memperkuat. Semua itu menciptakan pengguna fanatik yang mengasingkan mereka dari pasar yang penuh dengan brand lain yang sekuat tenaga merebut hati mereka ini. Facebook dan Google juga contoh kelebihan kompetitif yang lain.

Bangun dan motivasi tim Anda

Jadikan ini sebagai prioritas utama. Buffett menunjukkan bahwa ia bersedia untuk menyisihkan waktu demi mengenal timnya dengan baik dan memandang prospek untuk berbagai bisnis sebagai sebuah fungsi dari kekuatan para manajernya. Intinya, bangun sebuah tim yang unggul dan hal-hal hebat bisa terjadi selanjutnya.

Perusahaan sukses seperti Google dikenal dengan proses rekrutmen yang sangat selektif. Dan korelasi antara orang yang hebat dengan penciptaan nilai adalah sangat erat sekali.

Ukur kinerja secara konsisten dan jangan takut akui kesalahan

Dalam laporan, Buffett tak hanya menyombongkan prestasinya, ia juga dengan ksatria mengakui kegagalan-kegagalannya. Ia juga mengakui salah prediksi mengenai tren terbaru di dunia bisnis seperti perbaikan dalam sektor perumahan.

Entrepreneur sejati mampu mengenali tantangan dan dengan tegas memecahkannya. Selain itu ia juga menggunakan sebuah standar penilaian kinerja yang transparan dan ajeg. Buffett membandingkan nilai pembukuannya dengan Standard & Poor’s 500 selama 47 tahun terakhir ini. Hanya dengan konsistensi kinerja bisa diukur dengan lebih akurat.

Berpikir jangka panjang dan setia dengan visi Anda bahkan jika dianggap kuno

Buffett mengingatkan kita bahwa kunci menuju sukses ialah fokus pada investasi ‘aset produktif’, yaitu perusahaan-perusahaan yang bisa tumbuh tanpa membutuhkan modal tambahan dalam jumlah besar.

Perusahaan-perusahaan seperti itulah yang secara efisien menghasilkan barang dan jasa yang secara konsisten dibutuhkan konsumen meski di saat krisis sekalipun.

Ia hindari aset tak produktif, yaitu hal-hal yang tak menghasilkan hal lain yang berguna tetapi hanya berharap akan dibeli dengan harga yang lebih tinggi di masa depan seperti emas. Ia juga menegaskan fenomena bubble di saham Internet sebagai contoh serupa di mana kelebihan yang sangat tinggi terjadi karena ide yang awalnya masuk akal dengan harga yang makin naik dan dipublikasikan dengan baik. Karena mengetahui bahwa bubble akhirnya akan pecah juga, ia melewatkan peluang untuk berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang menghasilkan untung cepat tetapi strategi ini ialah dengan fokus pada aset produktif saja dan ia terjebak dengan aset produktif itu selama hampir 50 tahun.

Entrepreneur sejati tidak mencari validasi dari dunia luar terlalu sering, mereka justru seharusnya mempercayai naluri diri sendiri dan jangan mengkhianati visi utama. Steve Jobs adalah contoh yang sempurna. Ia ditendang dari perusahaan yang ia dirikan , bergabung kembali saat perusahaan itu hampir kolaps dan bangkrut dan tak pernah sedetik pun mengabaikan visinya semual mengenai bagaimana Apple akan menjelma di masa datang. sumber: ciputraenterpreneur.com

 

Tidak semua orang menjadi miliarder dengan mengikuti langkah Warren Buffett. Atau mungkin, ada langkah yang terlewat dalam langkah investasi yang dilakukan. Orang terkaya kedua di dunia ini ditaksir memiliki kekayaan sebesar USD58,5 miliar Rp660,58 triliun (kurs Rp11.292 per USD). Dia memulai semuanya dari nol.

USA Today, Rabu (9/3/2014), menguraikan jika Oracle of Omaha ini memulai investasi dengan modal USD100.000, di mana dana miliknya hanya USD100. Tapi, hasil investasinya membuat dia mengantongi kerajaan bisnis senilai USD309 miliar 50 tahun kemudian.

Bagaimana sebenarnya langkah Buffett dalam berinvestasi sehingga menghasilkan keuntungan yang sangat luar biasa?

1. Yang pertama-tama harus dilakukan adalah berinvestasi dengan baik. Bisa dimulai dengan melakukan analisa atas performa bisnis dan fundamental dari saham.

2. Kendati tidak memiliki waktu, maka cobalah untuk tetap melakukan riset kecil-kecilan. Jangan lupa untuk melakukan diversifikasi atas investasi di pasar modal.

3. Buffett dan partnernya, Charlie Munger, adalah tipe orang yang berfikir secara jangka panjang dalam meraup keuntungan, umumnya lebih dari lima tahun.

4. Jangan lupa memantau kondisi makroekonomi, proyeksi pasar dan sentimen-sentimen yang mempengaruhi pasar. Jangan mengabaikan isu-isu yang ada seputar emiten dan saham.

5. Jangan pernah mematok untuk melakukan trade secara berkala. Jika ingin memiliki aset berkualitas tinggi, maka investasilah ke perusahaan yang memiliki bisnis kuat. Jadi, Anda tidak perlu selalu melakukan berganti-ganti saham.

sumber: ciputraenterpreneur.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s