geospasial


Mempopulerkan Geospasial Lewat Tulisan

Negeri ini tak akan pernah kehabisan putra putri terbaiknya. Dalam hal apapun, Indonesia selalu punya peluang untuk mewujudkan sebuah tim impian ataupun sekedar single player yang mampu bersaing di kancah dunia. Hal itu berlaku untuk yang yakin tentu saja, lupakan mereka yang bilang tanah air ini sudah tak punya harapan untuk bangkit.

Abaikan dahulu data dan fakta, kita saat ini berbicara tentang sebuah harapan. Bahwa mereka yang saat ini menggeluti dunia geospasial memang tidak sebanyak engineerengineer lain yang bertebaran di muka bumi nusantara. Tapi sekali lagi ini masalah harapan, bahwa dalam tahun-tahun mendatang geospasial akan menjadi salah satu cabang keilmuan yang paling diminati di Indonesia, sekaligus memperbesar peluang memajukan keilmuan dan industri ini dalam mewujudkan cita-cita penyelenggaran informasi geospasial yang cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Cita-cita itu memang harus diwujudkan dengan mempertimbangkan berbagai macam aspek. Layaknya sebuah informasi, perkembangan suatu bidang keilmuan juga bergantung kepada bagaimana ilmu tersebut digunakan sekaligus disebarkan. Untuk penggunaan, geospasial memang memiliki kemajuan yang sangat baik. Industri berkembang bahkan dari mereka yang masih menyandang status mahasiswa, teknologi terus muncul sebagai solusi untuk semua tantangan yang ada, dan kesadaran para penyelenggara pembangunan nasional akan kebutuhan informasi geospasial yang baik juga semakin meningkat.

Jika semua pembahasan di atas berada pada tataran level profesional yang menjadi muara sebuah keilmuan dengan menghasilkan produk yang nyata, adalah sebuah keharusan untuk memperhatikan tempat dimana para pakar geospasial ‘dilahirkan’. Kampus tentu saja, suatu akademi tempat dimana calon-calon penggiat geospasial mulai memahami ilmu ini bahkan sedari mereka tidak tahu-menahu apapun. Teori dasar, praktek, hingga tantangantantangan dari sang pengajar demi memacu kreativitas para mahasiswanya adalah bumbubumbu yang mewarnai perjalanan seorang ‘anak bawang’ menjadi seorang ‘bintang’, dalam bidang geospasial. Inilah yang harus diperhatikan, terlepas dari universitas adalah tempat yang menuntut seorang siswa untuk kreatif, pembelajaran yang benar tetap harus menjadi hak yang diterima oleh mereka yang sudah memutuskan untuk menjadi mahasiswa geospasial.

Bukan soal teknik mengajar yang dipermasalahkan di sini, melainkan hak mahasiswa untuk mendapatkan fasilitas belajar yang memadai untuk mengembangkan otaknya. Fasilitas belajar tak akan pernah lepas dari tulisan, entah itu dikemas manis dalam sebuah buku yang menarik atau sekedar referensi digital yang berkembang pesat di internet. Sayangnya keterbatasan sumber daya manusia di bidang geospasial diimbangi dengan terbatasnya tulisan yang mengangkat tema yang sama, khususnya mengenai pemetaan dasar.

Bukan sebuah rahasia masyarakat kita agak sulit ketika disuruh membaca, apalagi disuruh membaca tulisan ilmiah. Mungkin ini pula yang menjadi akar permasalahan begitu rendahnya minat menulis masyarakat negeri kita. Sudah bisa ditebak, referensi dengan bahasa asing sesungguhnya bukan merupakan solusi ideal untuk menyelesaikan begitu rendahnya kuantitas bacaan geospasial di Indonesia. Adalah keharusan bagi seorang mahasiswa untuk belajar dari manapun, bahkan ketika itu harus bersumber dari negeri di Eropa atau Amerika. Namun di sini kita berbicara tentang pengembangan sebuah bidang keilmuan. Konteksnya adalah ‘mempopulerkan’, dan itu tidak bisa dilakukan ketika penggiat geospasial itu sendiri tidak suka menyebarkan apa yang mereka tahu. Mungkin saja ia akan pintar menyajikannya dalam sebuah presentasi yang luar biasa menarik, tapi apa yang berbekas adalah apa yang kita tulis, bukan apa yang kita katakan.

Hak bagi adik kita untuk mendapatkan bacaan positif yang mampu mengantarkan mereka pada pemahaman yang lebih baik tentang ilmu yang ditekuni. Semua harus diawali dari kita selaku orang yang terjun langsung dalam kegiatan pemetaan, juga oleh para pendidik yang memiliki peran aktif dalam mencetak seorang ‘bintang masa depan’ di bidang geospasial. Semua bisa diawali cukup dengan mendokumentasikan apa saja kegiatan yang dilakukan oleh kita selaku profesional di bidang pemetaan, bagaimana sebuah peta dihasilkan, bagaimana peta-peta itu dimanfaatkan. Atau jika ingin lebih visioner, apa saja tantangantantangan yang ada saat ini untuk secepatnya harus kita jawab, demi menghasilkan efektivitas dalam menghasilkan sebuah peta tanpa kehilangan esensi utamanya, yaitu akurasi. Cukup tuliskan saja apa saja yang sudah terjadi, tak lebih dari mengubah format dari dokumen teknis menjadi karya tulis ilmiah –meski bukan sepenuhnya ilmiah karena bukan merupakan hasil penelitian. Jika tuntutan pekerjaan menjadi pemicu utama kita dalam menghasilkan laporan pekerjaan, apakah tuntutan untuk mengembangkan ilmu yang kita cintai ini tak bisa menjadi pelecut dalam menghasilkan satu saja karya tulis setiap tahunnya?

Jika setiap orang mempublikasikan satu tulisan saja setiap tahunnya, lihat bagaimana semua orang akan tahu bagaiman sebuah peta RBI, LPI, dan LLN dihasilkan, bagaimana problematika segmen batas yang ada di setiap penjuru negeri, atau bagaimana pelaksanaan kegiatan perencanaan tata ruang di setiap daerah berkaitan dengan peta dasar yang ada. Sesederhana itu, dan setiap tulisan akan bisa dinikmati oleh mereka yang sedang asyik belajar, dan tentunya akan sangat luar biasa jika tulisan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman keilmuan dari sisi teknis, namun juga menginspirasi mereka untuk merancang masa depannya. Disinilah peran pengajar begitu besar. Selain berkontribusi langsung dalam memperkaya tulisan ilmiah di negeri ini dengan tulisan mereka sendiri, adalah tugas mereka untuk memandu para anak didiknya dalam memilih tulisan yang berkualitas untuk mereka jadikan referensi yang tepat. Panduan ini terkait tulisan yang sesuai dengan teori yang diajarkan, juga untuk mem-filter jika ada tulisan yang kurang dapat dipertanggungjawabkan jika dilihat dari sudut pandang ilmiah. Kesesuaian teori dengan bacaan yang mereka konsumsi tentu akan menjadi sebuah koneksi yang menarik, sehingga dasar-dasar yang diajarkan dosen di depan kelas dapat langsung dipahami mahasiswa dari sisi praktek. Setelah minat baca mahasiswa meningkat, barulah teknik penulisan ilmiah yang baik dapat diajarkan. Sebab selama ini mahasiswa tak pernah tertarik untuk belajar menulis ilmiah karena mereka tak terbiasa, bukan?

Ini hanyalah sebuah opini, sebuah pemikiran sederhana yang tentunya tak akan cocok dengan setiap orang. Tapi kenyataan bahwa perkembangan sebuah ilmu akan selalu terkait dengan tulisan akan sulit ditampik. Mungkin mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu yang kita kuasai memang bukan sebuah kewajiban yang absolut, namun tanggung jawab moral seharusnya melekat demi mewujudkan sebuah peran yang meskipun sedikit dapat memajukan ilmu yang kita cintai. Hal yang secara tidak langsung akan memberikan efek domino yang positif untuk orang lain, mulai dari makin berkembangnya sumber daya manusia geospasial di negeri ini –secara kuantitas maupun kualitas, terbukanya alternatif kuliah untuk mereka yang membutuhkan, makin maraknya lapangan pekerjaan yang layak, memajukan dunia penelitian di bidang spasial, hingga meningkatnya kualitas produk geospasial yang menjadi komponen penting dalam pembangunan negeri kita tercinta.

Danang Budi Susetyo

Pusat Pemetaan Rupabumi dan Toponim

Badan Informasi Geospasial

Tulisan ini saya ambli dari :

http://www.bakosurtanal.go.id/assets/download/artikel/Mempopulerkan-Geospasial-Lewat-Tulisan.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s