demokrasi


Sejarah Demokrasi

Kata “demokrasi” pertama muncul pada mazhab politik dan filsafat Yunani kuno di negara-kota Athena. Dipimpin oleh Cleisthenes, warga Athena mendirikan negara yang umum dianggap sebagai negara demokrasi pertama pada tahun 508-507 SM. Cleisthenes disebut sebagai “bapak demokrasi Athena.”

Demokrasi Athena berbentuk demokrasi langsung dan memiliki dua ciri utama: pemilihan acak warga biasa untuk mengisi jabatan administratif dan yudisial di pemerintahan,[9] dan majelis legislatif yang terdiri dari semua warga Athena.[10] Semua warga negara yang memenuhi ketentuan boleh berbicara dan memberi suara di majelis, sehingga tercipta hukum di negara-kota tersebut. Akan tetapi, kewarganegaraan Athena tidak mencakup wanita, budak, orang asing (μέτοικοι metoikoi), non-pemilik tanah, dan pria di bawah usia 20 tahun.[butuh rujukan]

Dari sekitar 200.000 sampai 400.000 penduduk Athena, 30.000 sampai 60.000 di antaranya merupakan warga negara.[butuh rujukan] Pengecualian sebagian besar penduduk dari kewarganegaraan sangat berkaitan dengan pemahaman tentang kewarganegaraan pada masa itu. Nyaris sepanjang zaman kuno, manfaat kewarganegaraan selalu terikat dengan kewajiban ikut serta dalam perang.

Demokrasi Athena tidak hanya bersifat langsung dalam artian keputusan dibuat oleh majelis, tetapi juga sangat langsung dalam artian rakyat, melalui majelis, boule, dan pengadilan, mengendalikan seluruh proses politik dan sebagian besar warga negara terus terlibat dalam urusan publik. Meski hak-hak individu tidak dijamin oleh konstitusi Athena dalam arti modern (bangsa Yunani kuno tidak punya kata untuk menyebut “hak”, penduduk Athena menikmati kebebasan tidak dengan menentang pemerintah, tetapi dengan tinggal di sebuah kota yang tidak dikuasai kekuatan lain dan menahan diri untuk tidak tunduk pada perintah orang lain.

Continue reading “demokrasi”

Quizz Agama 13


Apa yang dimaksud dengan al-hurriyyah dan syura serta jelaskan relevansi kedua konsep tersebut dengan demokrasi?

Al Hurriyyah yaitu kebebasan, mudah difahami bahwa setiap orang atau individu, rakyat memiliki hak kebebasan dalam berpendapat dan tindakannya secara bertanggung jawab.

Syura atau berarti musyawarah, pengambilan keputusan bersama dilakukan dengan musyawarah untuk mencapai kemufakatan bersama.

Walaupun keduanya, Al hurriyyah dan Syura mempunyai relevansinya dengan Demokrasi, dalam konteksnya sebagai umat muslim tidak bisa lepas dari konsep Tauhid. keduanya harus berdasarkan dengan syariat Islam.

ada dua pendekatan yang bisa kita jadikan dalam kerangka berpikir dari Al hurriyyah dan Syura, sehingga umat muslim tidak terjebak dalam maksudnya faham demokrasi.

  1. Pendekatan secara umum, bahwa Islam dengan prinsip hurriyah dan As syura nya memberikan kebebasan kepada siapa saja orang/individu dalam menentukan pilihan atau pun cara dalam menerapkan maksud Al hurriyyah dan As syura berdasarkan keyakinan pribadi masing-masing. karena Islam memang tidak memaksakkan kehendak orang/manusia, manusia diberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri seperti tergambar dalam:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S. Al Baqarah: 256)

“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi or ang-orang yang beriman semuanya?” (Q.S. Yunus : 99)

  1. Pendekatan secara eksklusif, yang termasuk di dalamnya adalah kita selaku orang muslim yang memahami bahwa seorang muslim harus mengikuti kehendak Allah SWT dalam setiap gerak kehidupan, prinsip al hurriyyah dan syura harus difahami dengan konsep yang telah Allah dan Rosul berikan contohnya, tidak semaunya sendiri, harus berpedoman kepada Al Qur’an dan Sunnah Nabi.

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka Apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?”, (QS. Al Furqaan [25]: 43)

“Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Allah-lah yang memiliki segala apa yang di langit dan di bumi. dan kecelakaanlah bagi orang-orang kafir karena siksaan yang sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 1-2)[5]

Muru’ah

Prinsip muru’ah dalam Islam : Yang membedakan manusia dengan makhluknya lainnya, sesuai arti dari muru’ah yang di ambil dari kata benda yaitu mar’u yang berarti manusia.

Manusia mempunyai derajat yang tinggi di atas segala makhluk ciptaan Allah, prinsip ini dijadikan petunjuk untuk perbuatan atau akhlak dalam Islam.