Produktifitas kerja


Dalam menghitung Rencana Anggaran Biaya dalam konstruksi pasti kita temukan biaya/upah pekerja, namun sejauh mana sebenarnya pengaruhnya terhadap Harga satuan suatu pekerjaan, sehingga harga yang kita tawarkan dapat bersaing dan moderat.

Sulit memang menentukan produktifitas kerja pada pekerja konstruksi kalau tidak pernah terjun langsung ke lapangan syukur kalau berani coba ngerjain pekerjaan para pekerja. Tidak ada data yang saya peroleh produktifitas pekerja kecuali yang ada di analisa harga satuan keluaran BSN atau PU.

Cara yang paling aman jika anda seorang QS (Estimator) suatu Perusahaan Kontraktor adalah menanyakan langsung kepada pekerja atau supervisor/mandor, dan bisa dibuatkan tabel dari setiap tukang kemudian diambil rata-rata, karena yang jelas setiap kontraktor pasti tidak sama indeks yang di dapat.

Perlu sedikit kiranya kita mengerti sejauh mana produktifitas itu, agar mempunyai gambaran untuk perhitungan dalam menganalisa harga/upah.

Ada banyak faktor-faktor yang mepengaruhi produktifitas kerja, Menurut  James A. F. Stoner ada 11 faktor yang turut mempengaruhi produktifitas kerja yaitu :

  1. Angkatan kerja
  2. Biaya Energi
  3. Keadaaan fasilitas dan investasi
  4. Tingkat pengeluaran untuk penelitian dan pengembangan
  5. Pertambahan sektor jasa yang kurang produktif
  6. Perubahan struktur keluarga
  7. Penggunaan obat-obatan dan alkohol yang meningkat
  8. Perubahan sikap dan mottivasi kerja
  9. Peraturan pemerintah yang menimbulkan biaya bagi industri
  10. Inflasi
  11. Kebijakan pajak

Ada empat kategori umum untuk meningkatkan produktifitas

  1. Perbaikan produk dan proses
  2. Perbaikan pekerjaan dan tugas
  3. Metode pemotivasian pekerja
  4. Perubahan organisasional

Dalam hubunga produktifitas dan organisasi menurut Buchari Alma, ada tiga ukuran produktifitas yang harus dipertimbangkan dalam mengelola Organisasi, yaitu:

  1. Untuk tujuan strategis, apakah organisasi sudah benar sesuai dengan apa yang digariskan
  2. Efektifitas, sampai tingkat manakah tujuan itu sudah di capai dalam arti kuantitas dan kualitas
  3. Efisiensi, bagaimana perbandingan output dibagi input, dimana pengukuran output termasuk didalamnya kuantitas dan kualitas

Ada dua macam rasio produktifitas:

  1. Produktifitas total membandingkan semua keluaran dengan semua masukan keluaran total/masukan total
  2. Produktifitas parsial membandingkan semua keluaran dengan kelompok utama tertentu dari input keluaran total/masukan tertentu

ini rumus produktifitas menurut Buchari Alma

Produktifitas = Hasil yang diperoleh / Input yang dikeluarkan

= Performans yang di capai / Sumber-sumber yg di korbankan

= Efisiensi / Efektfitas

Ada banyak cara untuk meningkatkan produktifitas misalnya:

  1. Pengadaan sistem pendukung keputusa manajemen
  2. Pengaturan akhiran kerja guna mengurangi jumlah pekerja pada masa sibuk
  3. Pengadaan Training
  4. Program insetif yag didasarkan pada produktifitas jangka panjang
  5. dll

 

Perencanaan Anggaran


Dalam pekerjaan konstruksi tahapan akhir dari perencanaan biasanya menghitung kebutuhan anggaran, itu konteks secara teori padahal dalam masa perencanaan yang paling pokok dan utama adalah perhitungan anggaran di depan setelah konsep perencanaan di setujui atau bersamaan dengan pematangan konsep, karena percuma saja konsep dan perencanaan yang sudah matang dan makan waktu berbulan-bulan akhirnya kandas karena setelah di hitung anggarannya, ternyata tidak mencukupi. Untuk proyek-proyek swasta akan menjadi masalah karena proyek yang terbengkalai sangat merugikan, lain halnya dengan proyek-proyek pemerintah yang dikerjakan secara bertahap jika anggaran tidak mencukupi akan dilaksanakan pada tahap selanjutnya, dan dana/anggarannya jelas.

Untuk menghitung anggaran  secara tepat tentunya sangat sulit, paling ideal adalah mendekati dari jumlah anggaran rencana berkisar 5% s/d 10%, banyak alat-alat yang bisa di jadikan acuan baku dalam menghitung anggaran secara kasar biasanya dalam konstruksi di hitung per m2 terhadap luas bangunan. Seperti Departemen Pekerjaan Umum yang sudah mempunyai standard Harga anggaran bangunan baik gedung dan rumah. anda bisa cek atau searching untuk mendapatkannya.

 

 

 

 

Software RAB & Alat Kontrol


Software untuk memudahkan menentukan Harga, Target pelaksanaan & Kebutuhan Material dan Tenaga Kerja. Sofware ini belum 100% jadi tapi secara sistem sudah dapat dipergunakan hanya Data-data yang belum sepenuhnya komplit.

Software RAB ini banyak membantu saya dalam menjalankan Proyek,

Software RAB ini disesuaikan dengan SNI & pengalaman lapangan.

flowchart 1

Standar metode pengukuran pekerjaan bangunan


Standar metode pengukuran pekerjaan bangunan atau dalah singkatan inggrisnya SMM (Standard Methode of Measurement of Building Works) adalah standar-standar yang dipergunakan untuk pengukuran dalam suatu proyek bangunan dari mulai perencanaan hingga selesainya proyek sampai batas akhir masa pemeliharaan bangunan.

SMMBW (Standard Methode of Measurement of Building Works) ini perlu dan wajib di ketahui oleh para pelaku manajemen bangunan dan terutama yang bersentuhan langsung adalah seorang Quantity surveyor. 

Secara garis besar dan umum SMMBW (Standard Methode of Measurement of Building Works) ini mencakup:

– Preminaries (Persiapan/pendahuluan)

– Struktur/Bangunan Utuh/units

– Bangunan yang sudah ada/bangunan baru

– Pekerjaan Dasar/Tanah

– Pekerjaan struktural / Pekerjaan Besi / Pekerjaan kayu

– Pekerjaan Beton / Beton pracetak

– Pekerjaan Pasangan Bata/pekerjaan batu

– Pekerjaan Struktural/

– Pekerjaan Cladding/Covering

– Pekerjaan Waterproofing

– Pekerjaan Lapisan/selubung

– Pekerjaan Pintu/Jendela/Tangga-tangga

– Fasad 

– Furnitur/Equipments

– Interior

– Pekerjaan paving / tanaman / pagar / interior furniture

– sistem pembuangan

– Sistem Distribusi Air Bersih

– Pemanas/pendingin/regfrigerant system

– Tata udara/air conditioning system

– elektrikal system

– komunikasi/security/fire alarm/control system

– system transport dalam gedung

– ME pengukuran 

Garis-garis besar di atas dijadikan acuan atau patokan dalam menentukan untuk perencanaan, pembuatan dokumen-dokumen dll,

untuk detailnya silahkan anda bisa baca buku SMM7 (Standard Methode of Measurement of Building Works)

memanajemen proyek


dari mulai drafter lanjut menjadi qs (quantity Surveyor) kemudian masuk ke area manajemen, untungnya ada software microsoft project, jadi lebih mudah untuk membayangkan dan mengaplikasikannya ke dalam.

saya coba buat standard-standard scheduling untuk bangunan berlantai, yang dengan basement dan tanpa basement sehingga ketika akan digunakan tinggal pakai saja. juga berikut RAB.

Image

 

 

Jasa Perencanaan Mekanikal dan Elektrikal


Menerima Desain perencanaan ME (Mekanikal dan Elektrikal)

 

  1. Kriteria Desain
  2. DED
  3. Laporan Perencanaan
  4. RAB

Untuk Keterangan lebih lanjut langsung hibungi kami di:

Handoko Aji (085714675711) WA atau Message

email : handokoaji@gmail.com

 

Terima kasih

cara sederhana menghitung koefisien untuk harga satuan pekerjaan


Mungkin ini hanya sedikit berbagi pengetahuan saja kalau memang benar silahkan di ambil kalau memang salah mohon kiranya di beri masukan.

Misalnya kita akan menghitung koefisien dari galian tanah (M3) dengan tenaga manusia.

Analisa Teknis Satuan Pekerjaan

Pertama adalah menganalisa alat apa yang dibutuhkan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut.

Cangkul! sudah pasti kita butuh cangkul untuk menggali tanah, hasilnya tentu akan berbeda kalau kita menggunakan sendok untuk menggali tanah.

kita mulai buat pertanyaan?

Seberapa banyak yang dapat diperoleh dari sebidang cangkul dalam hal ini dengan satuan M3?

PRODUKTIFITAS

Anggaplah volume yang di peroleh dari sebidang cangkul adalah P = 200 mm L = 200 mm , ketebalan tanah yang bisa di angkat adalah 45 mm, jadi dalam sebidang cangkul di peroleh 200 x 200 x 45 = 0,0018 M3 langsung kita konversikan ke dalam Meter. Kalau begitu dalam sekali cangkul di dapat tanah sebanyak 0,0018 M3.

Pertanyaan lagi? berapa kali tukang gali harus mencangkul untuk memperoleh 1 M3? berarti 1M3/0,0018 M3 maka diperoleh 556 kali mencangkul untuk mendapatkan tanah sebanyak 1 M3.

bagaimana cara mengubah nya agar menjadi satuan waktu, buat saja pertanyaan lagi? Berapa waktu yang dibutuhkan tukang gali untuk sekali mencangkul dan membuangnya? coba kamu peraktekkan pada sebidang tanah. Pada tanah empuk tentu akan berbeda dengan tanah keras. Baiklah asumsikan saja 1 menit!

kalau begitu kali kan saja dengan 556 tadi, maka waktu yang dibutuhkan tukang gali adalah 556 menit, kemudian kita konversikan ke dalam jam, maka akan di dapat hasil 9,26 Jam seorang tukang gali mencangkul 1 M3 tanah. kalau tanah keras silahkan asumsikan sendiri?

ANALISA HARGA

Kemudian analisa harga upah tukang gali anggaplah Rp. 70.000/HO atau hari dalam standar kerja

Maka kita bisa konversikan ke dalam hari 70.000 / 9,26 = 7.650 HO/Jam,

Standar kerja berapa jam sih? 7 Jam, maka kalikan saja 7.650 X 7 = 52.920 HO

KOEFISIENNYA

Maka kita bisa tentukan Koefisiennya dengan membagi 52.920 : 70.000 = 0.7560

Sementara analisa SNI adalah 0,7500 (SNI revisi 6.1.1)

Sementara kalau untuk pengawas atau mandor biasanya di bagi 30 pekerja, artinya setiap mandor atau pegawas mengawasi setidaknya 30 orang pekerja maka akan diperoleh 0,7500 : 30 = 0.0250.

Begitulah kira-kira analisa untuk mencari besaran koefisien (angka indeks) yang saya fahami.

Yang utama dalam menghitung ini adalah perhatikan satuan yang digunakan untuk acuan BQ,