Konsep Keunggulan Bersaing


Keunggulan bersaing, pangsa pasar, dan keuntungan senantiasa menjadi sasaran persaingan dan perubahan. Dalam hal ini strategi bertujuan mengahalangi pesaing serta melindungi keunggulan yang dimiliki saat ini (Stynes, 2011).

Kapabilitas berbeda dengan aset. Kapabilitas tertanam sangat dalam pada rutinitas dan praktek-praktek organisasi sehingga hal ini dapat diperdagangkan atau di tiru. Kapabilitas tersebar dalam empat dimensi (Stynes, 2011), yaitu:

  1. Akumulasi pengetahuan dan keterampilan karyawan
  2. Pengetahuan yang tertanam dalam sistem teknis, termasuk perangkat lunak, database, dan prsoedur formal
  3. Sistem manajemen yang berlaku utnuk menciptakan dan mengendalikan pengetahuan
  4. Nilai-niali dan norma-norma yang memandu informasi-onformasi apa saja yang akan dikumpulkan, jenis-jenis informasi apa saja yang akan dikumpulkan, jenis-jenis informasi apa saja yang dipandang paling penting dan bagaimana cara memanfaatkannya

Berkaitan dengan cepat tidaknya sesuatu keunggulan bisa tergerus Stynes (2011) memberikan ulasan sebagai berikut:

  1. Kelas satu (Siklus lamban), Perusahaan-perusahaan dalam kategori ini memiliki keunggulan yang dapat beratahan lama karena memiliki sumber daya dan kapabilitas yang unik, terpelihara dengan ketat dan sangat terlindungi dari tekanan persaingan.
  2. Kelas dua (siklus Standard), Perusahaan-perusahaan dalam kategori ini umumnya menghadapi persaingan yang lebih luas, yang berasal dari beberapa perusahaan yang mengejar pasar massal atau pasar modal.
  3. Kelas tiga (Siklus cepat), Perusahaan-perusahaan dalam kategori ini dapat ditemukan dalam pasar dengan siklus hidup produk yang singkat.

Lima kondisi yang dapat meningkatkan keunggulan suatu aset dan kapabilitas sumber daya adalah:

  1. Sumber daya tersebut bernilai tinggi
  2. Tahan lama
  3. Kausal ambiguitas
  4. Tidak dapat terduplikasi
  5. Penggerak awal (Pioner)

 

Iklan

lima kekuatan bersaing


Dalam industri apapun, persaingan dipengaruhi oleh lima kekuatan bersaing; Porter (1985)

  1. Masuknya pesaing baru
  2. Ancaman dari produk pengganti (subtitusi)
  3. Daya tawar pembeli
  4. Pemasok; dan
  5. Persaingan di antara perusahaan yang ada

Kelima kekuatan ini menentukan kemampulabaan industri karena mempengaruhi harga, biaya dan memerlukan investasi perusahaan di dalam suatu industri (Return of Investment).

Dalam menghadapi persaingan, perusahaan harus mempunyai strategi yang tepat apakah akan bersaing menjadi yang terbaik (competiting to be the best) atau bersaing untuk menjadi unik (competiting to be unique). Kesalahan strategi yang buruk adalah bersaing dengan pesaing dalam dimensi yang sama.

Porter juga menjelaskan bahwa perusahaan harus menentukan sasaran perusahaan dengan tepat/benar (setting the right goals) dengan memperhatikan beberapa hal, yaitu:

  1. Tujuan fundamental perusahaan adalah untuk menciptakan nilai ekonomi.
  2. Sasaran utama perusahaan adalah superior long-term return on investment.
  3. Perumbuhan hanya baik jika superior ROIC tercapai dan bertahan.
  4. Profitabilitas harus dapat di ukur secara realistis melalui actual profit dan full investment.
  5. Rancangan target profitabiltas atau pertumbuhan yang tidak realistis dapat melemahkan strategi.

 

proses produksi


Proses produksi

Proses diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk memperoleh suatu hasil. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan barang atau jasa (Assauri, 1995).

Proses juga diartikan sebagai cara, metode ataupun teknik bagaimana produksi itu dilaksanakan. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan danan menambah kegunaan (Utility) suatu barang dan jasa. Menurut Ahyari (2002) proses produksi adalah suatu cara, metode ataupun teknik menambah keguanaan suatu barang dan jasa dengan menggunakan faktor produksi yang ada.

Melihat kedua definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa proses produksi merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan faktor-faktor yang ada seperti tenaga kerja, mesin, bahan baku dan dana agar lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia.

Jenis-jenis proses produksi

Jenis-jenis proses produksi ada berbagai macam bila ditinjau dari berbagai segi. Proses produksi dilihat dari wujudnya terbagi menjadi proses kimiawi, proses perubahan bentuk, proses assembling, proses transportasi dan proses penciptaan jasa-jasa adminstrasi (Ahyari, 2002). Proses produksi dilihat dari arus atau flow bahan mentah sampai menjadi produk akhir, terbagi menjadi dua yaitu proses produksi terus-menerus (Continous processes) dan proses produksi terputus-putus (Intermettent processes).

Perusahaan menggunakan proses produksi terus-menerus apabila di dalam perusahaan terdapat urutan-urutan yang pasti sejak dari bahan mentah sampai proses produksi akhir. Proses produksi terputus-putus apabila tidak terdapat urutan atau pola yang pasti dari bahan baku sampai dengan menjadi produk akhir atau urutan selalu berubah (Ahyari, 2002).

Penentuan tipe produksi didasarkan pada faktor-faktor seperti: (1) volume atau jumlah produk yang akan dihasilkan, (2) kualitas produk yang diisyaratkan, (3) peralatan yang tersedia untuk melaksanakan proses. Berdasarkan pertimbangan cermat mengenai faktor-faktor tersebut ditetapkan tipe proses produksi yang paling cocok untuk setiap situasi produksi. Macam tipe proses produksi dari berbagai industri dapat dibedakan sebagai berikut (Yamit, 2002):

Continue reading

perpindahan panas konduksi


KONDUKSI

Laju perpindahan panas konduksi melalui suatu lapisan material  dengan ketebalan tetap adalah berbanding lurus dengan beda suhu di pangkal dan ujung lapisan tersebut, berbandung lurus dengan luas permukaan tegak lurus arah perpindahan panas dan berbanding terbalik dengan ketebalan lapisan.  Ini dinyatakan dengan:

1

dimana k adalah koefisien perpindahan panas konduksi atau konduktivitas panas (thermal conductivity) dari material tersebut.

Persamaan ini dikenal dengan hukum Fourier untuk laju perpindahan panas konduksi.

Untuk tebal lapisan mendekati 0, persamaan diatas dapat ditulis kembali menjadi:

2

Panas dikonduksikan dari tempat yang suhunya tinggi ke tempat yang suhunya rendah. Sebagai akibatnya gradien suhu (dT/dx) kearah x positif  menjadi negatif. Dengan adanya tanda negatif  pada persamaan diatas akan menyebabkan nilai laju perpindahan panas dari suhu tinggi ke suhu rendah ini akan menjadi positif.

Sebagai contoh, bila suhu bervariasi secara linear pada suatu benda dengan ketebalan L, dimana suhu T1 > T2, maka akan terjadi perpindahan panas dari permukaan dengan suhuT1 ke arah permukaan dengan suhu T2.

Gradien suhu menjadi :

Continue Reading